Kasus Q4 dengan SJR 0.5 vs Q1 dengan SJR 0.1 adalah anomali yang sangat menarik dan sering membingungkan para peneliti.
Jawaban singkatnya: Q4 dengan SJR 0.5 itu jauh lebih bagus dan lebih berbobot secara ilmiah.
Namun, mengapa jurnal dengan SJR lebih kecil (0.1) bisa menyandang gelar Q1, sementara yang SJR-nya tinggi (0.5) justru terpuruk di Q4?
Jawabannya terletak pada prinsip "Keadilan Bidang Ilmu" di Scopus.
Berikut adalah penjelasan logis di balik fenomena ini.
Mengapa Ini Bisa Terjadi? (The Power of Subject Area)
Nilai Quartile (Q1–Q4) sebuah jurnal TIDAK dihitung secara global bercampur dengan seluruh ilmu di dunia, melainkan dihitung per bidang ilmu (Subject Area) secara spesifik.
Mari kita lihat ilustrasi perbandingan bidang ilmu berikut.
Jurnal A: Bidang Kedokteran Molekuler (SJR 0.5 → Masuk Q4)
Karakteristik Bidang
Di dunia kedokteran dan biologi, riset berkembang sangat cepat. Peneliti sangat aktif menulis dan saling mengutip. Akibatnya, "inflasi sitasi" terjadi.
Persaingan
Di bidang ini, jurnal-jurnal raksasa memiliki nilai SJR belasan hingga puluhan (misal: SJR 10.0 atau 20.0). Jurnal dengan SJR 0.5 akhirnya kalah bersaing dan terlempar ke kelompok 25% terbawah (Q4).
Jurnal B: Bidang Matematika Murni atau Seni & Humaniora (SJR 0.1 → Masuk Q1)
Karakteristik Bidang
Di bidang matematika murni, filsafat, atau sejarah, tradisi menulis artikel tidak secepat sains, dan daftar pustakanya cenderung sedikit. Mengumpulkan satu sitasi saja susahnya setengah mati.
Persaingan
Karena rata-rata semua jurnal di bidang ini memiliki SJR yang sangat rendah (misal rentang 0.01 hingga 0.09), maka jurnal yang berhasil menyentuh angka SJR 0.1 sudah dianggap luar biasa dan otomatis memimpin di kelompok 25% teratas (Q1).
Perbandingan Skenario: Mana yang Harus Anda Pilih?
Jika Anda adalah civitas akademika (misalnya di UM) yang harus memilih di antara kedua jurnal ini untuk menerbitkan artikel, berikut adalah pertimbangannya.
1. Dari Segi "Gengsi" Regulasi Kampus → Pilih Q1 (SJR 0.1)
Secara administratif, sistem penilaian di Indonesia (seperti SINTA, PAK Dosen, atau syarat kelulusan) sering kali menggunakan Quartile (Q) sebagai batas hitam-di-atas-putih.
- Memiliki publikasi di jurnal Q1 (meskipun SJR-nya mini) akan terlihat jauh lebih mentereng di CV dan sistem penilaian angka kredit nasional dibandingkan Q4.
2. Dari Segi "Kekuatan Riset" Nyata → Pilih Q4 (SJR 0.5)
Secara subtansi ilmiah, jurnal Q4 dengan SJR 0.5 ini sebenarnya adalah jurnal yang sangat aktif dan memiliki impact yang kuat di dunianya.
Artikel-artikel di dalamnya sering dikutip oleh artikel berbobot tinggi lainnya.
Jurnal ini hanya "sial" karena berada di bidang ilmu yang persaingannya sangat brutal (seperti rumpun Life Sciences atau Medicine).
Kesimpulan
Secara angka performa murni, SJR 0.5 jelas menunjukkan kualitas dan paparan ilmiah yang lebih masif daripada SJR 0.1.
Namun secara taktik birokrasi kampus di Indonesia, label Q1 tetap menjadi "idola" karena aturan regulasi sering kali menyamaratakan semua bidang ilmu tanpa melihat angka SJR di belakangnya.
